Kamis, 08 Mei 2025

AKANKAH KOPI TERANCAM PUNAH DI TAHUN 2050?

Bagi sebagian besar orang, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah ritual pagi, teman begadang, pengusir kantuk, bahkan pengikat pertemanan. Namun, sebuah pertanyaan mulai menghantui para pecinta kopi di seluruh dunia: apakah mungkin kopi akan punah pada tahun 2050?

Meski terdengar seperti prediksi yang dramatis, kekhawatiran ini sebenarnya didasarkan pada data ilmiah dan realitas lingkungan yang makin nyata, terutama menyangkut produksi kopi Arabika—jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan terkenal karena rasa serta aroma khasnya.

Dari berbagai jenis kopi yang ada, Arabika (Coffea arabica) merupakan jenis yang paling digemari secara global. Sekitar 60–70% kopi yang diperdagangkan di dunia adalah Arabika. Rasanya yang lembut, keasaman yang seimbang, dan aroma kompleks menjadikannya favorit di banyak kafe dan rumah.

Namun, di balik kenikmatannya, Arabika punya kelemahan besar, yakni sangat sensitif terhadap perubahan iklim.

Perlu diketahui, tanaman kopi Arabika memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Tumbuh optimal di ketinggian 1.000–2.000 meter di atas permukaan laut.
  • Membutuhkan suhu rata-rata antara 18–22°C.
  • Sangat rentan terhadap suhu ekstrem, curah hujan tak menentu, dan serangan hama.

Karakteristiknya inilah yang menjadikannya sangat rawan terhadap dampak pemanasan global.

Perubahan iklim tidak lagi sekadar wacana. Kita telah melihat bukti nyata di berbagai wilayah penghasil kopi.

Menurut IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim), suhu bumi diprediksi naik 1,5–2°C pada pertengahan abad ini jika emisi karbon tidak ditekan. Kenaikan ini dapat mengganggu siklus hidup tanaman kopi.

Curah hujan yang tak menentu juga  dapat menyebabkan bunga kopi rontok sebelum sempat berbuah. Kekeringan ekstrem atau banjir yang terjadi di luar musim juga memperburuk kondisi tanaman.

Selain itu, Kondisi hangat dan lembap adalah surga bagi hama seperti coffee berry borer (penggerek buah kopi) dan penyakit seperti karat daun (coffee leaf rust). Kedua ancaman ini telah menghancurkan ribuan hektar perkebunan kopi di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara.

Beberapa studi ilmiah memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan mengenai masa depan kopi Arabika:

1. Studi Climate Institute (2016)

Menyatakan bahwa hingga 50% wilayah yang cocok untuk menanam kopi Arabika saat ini akan hilang pada tahun 2050 karena perubahan iklim.

2. Penelitian oleh World Coffee Research dan CIAT (2020)

Menunjukkan bahwa negara-negara seperti Brasil, Kolombia, Ethiopia, dan Honduras—yang menjadi tulang punggung produksi kopi dunia—akan mengalami penurunan produktivitas signifikan jika tidak ada perubahan kebijakan atau adaptasi teknologi.

 3. University of Zurich (2022)

Melaporkan bahwa wilayah yang cocok untuk kopi Arabika akan bergeser ke ketinggian yang lebih tinggi, yang sering kali tidak tersedia atau justru merupakan kawasan konservasi hutan.

DAMPAK YANG SUDAH TERJADI SAAT INI

Perubahan iklim bukan hanya menjadi ancaman masa depan—akan tetapi dampaknya sudah terasa sekarang. Negara-negara penghasil kopi terbesar seperti Brasil, mengalami gagal panen besar akibat kombinasi cuaca ekstrem dan kekeringan dalam beberapa tahun terakhir. Harga kopi global melonjak drastis pada 2021 dan 2022. Selain itu, di Honduras dan Guatemala juga kehilangan banyak hasil panen akibat karat daun dan curah hujan yang tidak menentu. Di Ethiopia sendiri, yakni negara asal kopi Arabika, menghadapi tekanan besar karena berkurangnya curah hujan di dataran tinggi.

AKANKAH KOPI BENAR-BENAR PUNAH?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2050, produksi kopi Arabika bisa turun hingga 80% akibat dampak perubahan iklim seperti peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan serangan hama yang makin parah. Di saat yang sama, permintaan terhadap kopi diprediksi meningkat hingga tiga kali lipat, seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya budaya konsumsi kopi di seluruh dunia. Kondisi ini akan membuat kopi Arabika semakin sulit dibudidayakan, lebih mahal untuk diproduksi, dan kualitasnya menurun karena harus ditanam di lahan-lahan yang kurang ideal. Akibatnya, harga kopi bisa melonjak tajam dan membuatnya semakin tidak terjangkau bagi banyak orang. Jika tren ini berlanjut, kopi bukan lagi minuman harian seperti sekarang, melainkan bisa berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.

APA SOLUSI YANG DAPAT DILAKUKAN?

Meski ancaman terhadap masa depan kopi cukup serius, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasinya. Salah satu fokus utama adalah penelitian dan pengembangan varietas kopi baru yang lebih tahan terhadap panas dan penyakit, tanpa mengorbankan cita rasa. Contohnya adalah Coffea stenophylla, spesies langka dari Afrika Barat yang mampu bertahan di suhu tinggi namun tetap memiliki rasa mirip Arabika.

Di sisi lain, banyak petani mulai menerapkan sistem pertanian berkelanjutan seperti agroforestri, yaitu menanam kopi di bawah naungan pohon lain untuk menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan stabil.

Penggunaan pupuk organik dan teknik irigasi hemat air juga mulai digalakkan untuk menjaga kelestarian tanah dan sumber daya alam.

Selain itu, dukungan dari konsumen dan pasar global juga sangat penting. Organisasi seperti Fair Trade, Rainforest Alliance, dan UTZ mendorong praktik pertanian yang adil dan ramah lingkungan, sementara kesadaran masyarakat untuk membeli kopi dari sumber yang bertanggung jawab pun terus meningkat. Semua langkah ini memberi harapan bahwa kopi tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang, asalkan kita semua terlibat dalam menjaga keberlanjutannya.

LALU, APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Meskipun tantangan perubahan iklim terasa besar, langkah-langkah kecil dari konsumen juga sangat berarti. Salah satunya adalah dengan memilih kopi berkelanjutan—yaitu kopi yang bersertifikat dan diproduksi dengan cara yang mendukung petani lokal serta menjaga lingkungan. Kita juga bisa mengurangi jejak karbon dengan memilih transportasi ramah lingkungan, mengurangi penggunaan energi berlebihan, dan meminimalkan limbah, termasuk saat menyeduh atau membeli kopi. Selain itu, penting bagi kita untuk terus belajar dan menyebarkan informasi tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi pertanian, termasuk kopi. Terakhir, hargai setiap cangkir kopi yang Anda nikmati. Jangan membuang-buang—karena setiap tetesnya melibatkan kerja keras banyak orang dan bergantung pada alam yang semakin rapuh.

Kopi, terutama jenis Arabika, menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Jika tidak ada tindakan nyata, produksinya bisa turun drastis di tahun 2050. Namun, dengan inovasi, pertanian berkelanjutan, dan kesadaran konsumen, masa depan kopi masih bisa diselamatkan.


"Masa depan kopi ada di tangan kita. Satu cangkir yang bertanggung jawab hari ini, bisa menjaga ribuan cangkir untuk generasi berikutnya."


0 Comments:

Posting Komentar