Bagi sebagian besar orang, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah ritual pagi, teman begadang, pengusir kantuk, bahkan pengikat pertemanan. Namun, sebuah pertanyaan mulai menghantui para pecinta kopi di seluruh dunia: apakah mungkin kopi akan punah pada tahun 2050?
Meski terdengar seperti prediksi yang dramatis, kekhawatiran ini sebenarnya didasarkan pada data ilmiah dan realitas lingkungan yang makin nyata, terutama menyangkut produksi kopi Arabika—jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan terkenal karena rasa serta aroma khasnya.
Dari berbagai jenis
kopi yang ada, Arabika (Coffea arabica) merupakan jenis yang paling
digemari secara global. Sekitar 60–70% kopi yang diperdagangkan di dunia
adalah Arabika. Rasanya yang lembut, keasaman yang seimbang, dan aroma kompleks
menjadikannya favorit di banyak kafe dan rumah.
Namun, di balik
kenikmatannya, Arabika punya kelemahan besar, yakni sangat sensitif terhadap
perubahan iklim.
Perlu
diketahui, tanaman kopi Arabika memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Tumbuh
optimal di ketinggian 1.000–2.000 meter di atas permukaan laut.
- Membutuhkan
suhu rata-rata antara 18–22°C.
- Sangat
rentan terhadap suhu ekstrem, curah hujan tak menentu, dan serangan hama.
Karakteristiknya inilah
yang menjadikannya sangat rawan terhadap dampak pemanasan global.
Perubahan iklim tidak lagi sekadar wacana. Kita telah
melihat bukti nyata di berbagai wilayah penghasil kopi.
Menurut IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan
Iklim), suhu bumi diprediksi naik 1,5–2°C pada pertengahan abad
ini jika emisi karbon tidak ditekan. Kenaikan ini dapat mengganggu siklus hidup tanaman kopi.
Curah hujan yang tak menentu juga dapat menyebabkan bunga kopi rontok sebelum sempat berbuah.
Kekeringan ekstrem atau banjir yang terjadi di luar musim juga memperburuk
kondisi tanaman.
Selain itu, Kondisi hangat dan lembap adalah surga bagi
hama seperti coffee berry borer (penggerek
buah kopi) dan penyakit seperti karat daun (coffee leaf rust).
Kedua ancaman ini telah menghancurkan ribuan hektar perkebunan kopi di Amerika
Latin, Afrika, dan Asia Tenggara.
Beberapa studi ilmiah memberikan gambaran yang cukup
mengkhawatirkan mengenai masa depan kopi Arabika:
1. Studi Climate Institute
(2016)
Menyatakan bahwa hingga 50% wilayah yang cocok
untuk menanam kopi Arabika saat ini akan hilang pada tahun 2050
karena perubahan iklim.
2. Penelitian oleh World Coffee
Research dan CIAT (2020)
Menunjukkan bahwa negara-negara seperti Brasil,
Kolombia, Ethiopia, dan Honduras—yang menjadi tulang punggung produksi kopi
dunia—akan mengalami penurunan produktivitas signifikan jika
tidak ada perubahan kebijakan atau adaptasi teknologi.
3. University of Zurich (2022)
Melaporkan bahwa wilayah yang cocok untuk kopi
Arabika akan bergeser ke ketinggian yang lebih tinggi, yang
sering kali tidak tersedia atau justru merupakan kawasan konservasi hutan.
DAMPAK YANG SUDAH TERJADI SAAT INI
Perubahan
iklim bukan hanya menjadi ancaman masa depan—akan tetapi dampaknya sudah terasa sekarang.
Negara-negara penghasil kopi terbesar seperti Brasil,
mengalami gagal panen besar akibat kombinasi cuaca ekstrem dan kekeringan dalam
beberapa tahun terakhir. Harga kopi global melonjak drastis pada 2021 dan 2022.
Selain itu, di Honduras dan Guatemala
juga kehilangan banyak hasil panen akibat karat daun dan curah hujan yang tidak
menentu. Di Ethiopia sendiri, yakni negara
asal kopi Arabika, menghadapi tekanan besar karena berkurangnya curah hujan di
dataran tinggi.
AKANKAH KOPI BENAR-BENAR PUNAH?
Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa pada tahun 2050, produksi kopi Arabika bisa turun hingga 80% akibat
dampak perubahan iklim seperti peningkatan suhu, perubahan pola hujan, dan
serangan hama yang makin parah. Di saat yang sama, permintaan terhadap kopi
diprediksi meningkat hingga tiga kali lipat, seiring pertumbuhan penduduk dan
meningkatnya budaya konsumsi kopi di seluruh dunia. Kondisi ini akan membuat
kopi Arabika semakin sulit dibudidayakan, lebih mahal untuk diproduksi, dan
kualitasnya menurun karena harus ditanam di lahan-lahan yang kurang ideal.
Akibatnya, harga kopi bisa melonjak tajam dan membuatnya semakin tidak
terjangkau bagi banyak orang. Jika tren ini berlanjut, kopi bukan lagi minuman
harian seperti sekarang, melainkan bisa berubah menjadi barang mewah yang hanya
bisa dinikmati oleh segelintir orang.
APA SOLUSI YANG DAPAT DILAKUKAN?
Meski ancaman terhadap masa depan
kopi cukup serius, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasinya. Salah
satu fokus utama adalah penelitian dan pengembangan varietas kopi baru yang
lebih tahan terhadap panas dan penyakit, tanpa mengorbankan cita rasa.
Contohnya adalah Coffea stenophylla, spesies langka
dari Afrika Barat yang mampu bertahan di suhu tinggi namun tetap memiliki rasa
mirip Arabika.
Di sisi lain, banyak petani mulai
menerapkan sistem pertanian berkelanjutan seperti agroforestri, yaitu menanam
kopi di bawah naungan pohon lain untuk menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk
dan stabil.
Penggunaan pupuk organik dan
teknik irigasi hemat air juga mulai digalakkan untuk menjaga kelestarian tanah
dan sumber daya alam.
Selain itu, dukungan dari
konsumen dan pasar global juga sangat penting. Organisasi seperti Fair Trade,
Rainforest Alliance, dan UTZ mendorong praktik pertanian yang adil dan ramah
lingkungan, sementara kesadaran masyarakat untuk membeli kopi dari sumber yang
bertanggung jawab pun terus meningkat. Semua langkah ini memberi harapan bahwa
kopi tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang, asalkan kita semua terlibat
dalam menjaga keberlanjutannya.
LALU, APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
Meskipun tantangan perubahan
iklim terasa besar, langkah-langkah kecil dari konsumen juga sangat berarti.
Salah satunya adalah dengan memilih kopi berkelanjutan—yaitu kopi yang
bersertifikat dan diproduksi dengan cara yang mendukung petani lokal serta menjaga
lingkungan. Kita juga bisa mengurangi jejak karbon dengan memilih transportasi
ramah lingkungan, mengurangi penggunaan energi berlebihan, dan meminimalkan
limbah, termasuk saat menyeduh atau membeli kopi. Selain itu, penting bagi kita
untuk terus belajar dan menyebarkan informasi tentang bagaimana perubahan iklim
memengaruhi pertanian, termasuk kopi. Terakhir, hargai setiap cangkir kopi yang
Anda nikmati. Jangan membuang-buang—karena setiap tetesnya melibatkan kerja
keras banyak orang dan bergantung pada alam yang semakin rapuh.
Kopi, terutama jenis Arabika, menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Jika tidak ada tindakan nyata, produksinya bisa turun drastis di tahun 2050. Namun, dengan inovasi, pertanian berkelanjutan, dan kesadaran konsumen, masa depan kopi masih bisa diselamatkan.
"Masa depan kopi ada di tangan kita. Satu cangkir yang bertanggung
jawab hari ini, bisa menjaga ribuan cangkir untuk generasi berikutnya."

0 Comments:
Posting Komentar